Biografi singkat Andi Sultan Daeng Radja, Pahlawan Nasional dari Bulukumba

Mulyadi_ganie , 09 November 2017

Sultan Daeng Radja lahir pada tanggal 20 Mei 1894, di Saoraja di Matekko Gantarang, wilayah Kabupaten Bulukumba.

Putra pertama pasangan Passari Petta Tanra Karaeng Gantarang dan Andi Ninong ini lebih banyak menghabiskan masa mudanya di kampung halaman. Ia orang yang taat beribadah dan aktif dalam kegiatan Muhamamadiyah. Ia juga disebut-sebut sebagai pendiri masjid di Ponre yang pada jamannya konon terbesar di Sulawesi Selatan.

Memasuki sekolah rakyat di Bulukumba, Volksschool selama tiga tahun. Lalu melanjutkan ke Europeesche Lagere School (ELS) di Bantaeng. Selepas dari ELS, Sultan Daeng Radja melanjut ke OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren) di Makassar.

Setelah lulus dari OSVIA, Sultan Daeng Radja bekerja sebagai juru tulis kantor pemerintahan Onder Afdeeling Makassar. Karir Sultan Daeng Radja cukup cemerlang. Tidak beberapa lama ia diangkat menjadi calon jaksa dan diperbantukan di Inl of Justitie Makassar.

Beberapa posisi penting lain yang dijabatnya adalah menjadi Eurp Klerk pada Kantor Asisten Residen Bone di Pompanua, Klerk di Kantor Controleur Sinjai, wakil kepala pajak di Takalar, kepala pajak di Enrekang. Jabatan terakhir yang diembannya semasa pendudukan Belanda adalah Jaksa pada Landraad Bulukumba.

Perjuangan Sultan Daeng Radja sendiri sudah mulai terlihat saat ia bersekolah di OSVIA. Ia sangat membenci Belanda, akibat kesewenang-wenangan dan penindasan terhadap rakyat Bulukumba.

Semangat perjuangannya makin bertumbuh tatkala ia mulai aktif mengikuti perkembangan dan pertumbuhan organisasi Budi Utomo (Boedi Oetomo) dan Serikat Dagang Islam.

Akhirnya, Sultan Daeng Radja mengikuti kongres pemuda Indonesia 28 Oktober 1928. Kongres ini menghasilkan rumusan yang kemudian disebut Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1945, Sultan Daeng Raja beserta Andi Pangerang Daeng Rani dan Dr.Ratulangi menjadi utusan Sulawesi Selatan untuk mengikuti rapat PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) di Jakarta.

Seusai rapat PPKI, Sultan Daeng Raja langsung pulang ke Bulukumba. Beliau mengabarkan hasil rapat PPKI dan menyusun rencana untuk persiapan kemerdekaan Indonesia. Kabar kemerdekaan RI yang disampaikan Sultan Daeng Radja, disambut rasa haru dan gembira oleh seluruh rakyat Bulukumba.

Setelah proklamasi Kemerdekaan, Sultan Daeng Radja dituduh terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI. Sehingga pemerintah NICA memecatnya dan diasingkan ke Menado, Sulawesi Utara.

Tanggal 8 Januari 1950, setelah pengakuan kedaulatan RI oleh Pemeritah Belanda, Sultan Daeng Radja pun dibebaskan.

Sultan Daeng Radja wafat pada 17 Mei 1963 di Rumah Sakit Pelamonia Makassar dalam usia 70 tahun. Semasa hidupnya, Sultan Daeng Radja memiliki empat istri dan 13 anak.

Berkat jasa-jasanya dalam melawan penjajahan di Indonesia, Sultan Daeng Radja dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Adipradana berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 085/TK/Tahun 2006 tertanggal 3 November 2006.(sumber : sosok-tokoh.blogspot.co.id/ Dan berberbagai sumber)

Artikel Lainnya :

MTQ ke-46 Bulukumba, Bupati Tambah Hadiah Bagi Kontingen Perebut Juara Umum dari Bulukumpa

  Bupati Bulukumba AM Sukri Sappewali membuka secara resmi Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke 46 Tingkat Kabupaten Bulukumba di Lapangan Remaja Kecamatan Bulukumpa, Senin malam (19/2/2018). Ribuan warga Bulukumba yang datang dari 10 Kecamatan...

Siswa SMA Diajari Kiat Masuk Sekolah Tinggi Kedinasan

  Jelang tamat SMA, ratusan siswa dan siswi yang saat ini duduk di bangku kelas 12 mengikuti sosialisasi terkait kiat dan strategi menembus perguruan tinggi atau sekolah tinggi kedinasan di ruang Pola Kantor Bupati, Senin 19 Februari...

JHK2 Diikuti 200 off roader dan 600 Crosser

Masih dalam rangkaian Hari Jadi Bulukumba ke 58, Indonesian Offroad Federation (IOF) Sulawesi Selatan Pengcab Bulukumba kembali menggelar Kompetisi Offroad Jelajah Hutan Karet yang kedua kalinya (JHK2). Pesertanya terdiri dari 600 rider.Selain...

Delegasi Delapan Negara Belajar di Masyarakat Adat Ammatoa

  Sedikitnya 28 peserta yang tergabung dalam Dedicated Grand Mecanism (DGM) yang terdiri dari delapan negara, berkunjung ke Kabupaten Bulukumba, Rabu (14/2/2018). Kedelapan negara asal peserta tersebut yakni Ekuador, Thailand, Nepal, Myanmar,...