Kapal Pinishi
Kapal Pinishi

Kapal Pinishi

Pinisi, Seni Pembuatan Kapal di Sulawesi Selatan, mengacu pada anjungan dan layar ‘Sulawesi schooner’ yang terkenal. Konstruksi dan penyebaran kapal-kapal semacam itu merupakan tradisi ribuan tahun pembuatan kapal dan navigasi Austronesia yang telah melahirkan berbagai macam kapal air canggih. Bagi masyarakat Indonesia dan publik internasional, Pinisi telah menjadi lambang kapal layar pribumi Nusantara. Saat ini, pusat-pusat pembuatan kapal terletak di Tana Beru, Bira dan Batu Licin, dimana sekitar 70 persen populasi mencari nafkah melalui pekerjaan yang terkait dengan pembuatan kapal dan navigasi. Namun, pembuatan kapal dan pelayaran tidak hanya menjadi andalan ekonomi masyarakat, tetapi juga merupakan fokus utama dari kehidupan dan identitas sehari-hari. Kerjasama timbal balik antara komunitas pembuat kapal dan hubungan mereka dengan pelanggan mereka memperkuat saling pengertian antara pihak-pihak yang terlibat. Pengetahuan dan keterampilan yang terkait dengan elemen diturunkan dari generasi ke generasi di dalam lingkaran keluarga, serta kepada individu di luar keluarga melalui pembagian kerja. Komunitas, kelompok, dan individu yang terlibat secara aktif terlibat dalam upaya pengamanan, misalnya melalui inisiatif pemasaran dan penerbitan buku tentang masalah tersebut.

Ditetapkan oleh Unesco pada tanggal 07/12/2017. Pinisi: Seni Pembuatan Perahu di Sulawesi Selatan (Art of boatbuilding in South Sulawesi) yang sebelumnya sudah ditetapkan oleh Menteri pada 13 Desember 2013 dengan nomor 238/M/2013 dengan Domain: Pengetahuan dan Kebiasaan Perilaku Mengenai Alam dan Semesta.

Deskripsi dan Sejarah Perahu pinisi : Sejarah Perahu pinisi merupakan jenis perahu tradisional yang merupakan hasil dari teknologi tradisional masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan. Perahu pinisi mempunyai ciri memiliki dua tiang layar utama dan tujug buah layar; tiga buah layar di ujung depan, dua di tengah, dan d0075a di belakang. Perahu ini memiliki fungsi utama sebagai pengangkut barang antar pulau. Tidak diketahui secara jelas asal-usul dari nama pinisi, tetapi terdapat dua teori mengenai asal-usul penamaan pinisi. Teori pertama menyatakan bahwa pinisi berasal dari kata Venecia, sebuah kota pelabuhan di Italia. Diduga dari kata venecia inilah kemudian berubah menjadi penisi menurut dialek Konjo yang selanjutnya mengalami proses fonemik menjadi pinisi. Pengambilan nama kota tersebut diperkiran didasari atas kebiasaan orang Bugis Makassar mengabadikan nama tempat terkenal atau mempunyai kesan istimewa kepada benda kesayangannya, termasuk perahu.

Sementara teori kedua berpendapat bahwa nama pinisi berasal dari kata panisi yang memiliki arti sisip. Mappanisi (menyisip) yaitu menyumbat semua persambungan papan, dinding, dan lantai perahu dengan bahan tertentu agar tidak kemasukan air. Dugaan tersebut berdasar pada pendapat yang menyatakan bahwa orang Bugis yang pertama menggunakan perahu pinisi. Lopi dipanisi’ (Bugis) artinya perahu yang disisip. Diduga dari kata pinisi mengalami proses fonemik menjadi pinisi

Untuk bentuk perahu pinisi sendiri diperkirakan merupakan pengembangan dari perahu panjala. Panjala sendiri merupakan perahu yang dipergunakan nelayan untuk menjala (menangkap ikan), namun nama tersebut kemudian menjadi nama jenis perahu. Hubungan antara perahu panjala dengan pinisi terlihat dari bentuk lambung perahu pinisi yang memiliki kesamaan dengan perahu panjala.

Postingan Lainnya
Kompleks Makam Datuk Tiro

Berada di kampung Hila- Hila, Kel/Desa Eka Tiro, Kecamatan Bonto Tiro. Makam Datuk Tiro menempati lahan seluas 695 m2, berorientasi...

Read More
Kompleks Makam Dea Dg. Lita

Berada di Jl. Karaeng Dea Dg. Lita, kampung Lingkungan Jalayya, kelurahan/desa Tana Jaya, kecamatan Kajang. Sistem pembuatan makam...

Read More
Anynyorong Lopi

Anynyorong Lopi termasuk kedalam Domain Adat Istiadat Masyarakat, Ritus dan Perayaan-perayaan. Lokasi Persebaran : Kelurahan Tanah...

Read More