Potensi perikanan laut Kabupaten Bulukumba cukup besar karena didukung oleh panjang garis pantai ± 128 km yang meliputi 7 kecamatan dari 10 kecamatan di Kabupaten Bulukumba. Adapun 7 kecamatan yang memiliki daerah pesisir yaitu kecamatan Gantarang, Ujung Bulu, Ujungloe, Bonto Bahari, Bonto Tiro, Kajang, dan Herlang. Selain itu, posisi Bulukumba sebagai daerah perbatasan untuk wilayah Kepulauan Selayar, Teluk Bone dan Laut Flores menjadikan posisi yang sangat strategis sebagai pusat distribusi dan perdagangan.

Kabupaten Bulukumba memiliki 2 (dua) pelabuhan perikanan yang terletak di Kecamatan Bonto Bahari dan Kajang, selanjutnya terdapat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sebanyak 5 (lima) yang terletak di Desa Bira Kecamatan Bonto Bahari, Kelurahan Bontokamase Kecamatan Herlang, Desa Gunturu Kecamatan Herlang, Kelurahan Ekatiro Kecamatan Bonto Tiro dan Kelurahan Bentenge Kecamatan Ujung Bulu.

Pada tahun 2024, produksi perikanan tangkap di Kabupaten Bulukumba mencapai 58.965,3 ton. Produksi terbesar diperoleh dari Kecamatan Ujung Bulu yang mencapai 12.329,2 ton, selanjutnya Kecamatan Kajang mencapai 11.776,7 ton. Produksi perikanan tangkap terbanyak berada di Kecamatan Ujung Bulu karena Kecamatan Ujung Bulu merupakan Ibu Kota Kabupaten yang menjadi pusat pemasaran.

Dinas Perikanan Bulukumba telah mengidentifikasi potensi lahan tambak air payau seluas sekitar 5.277,3 ha, dengan potensi produksi mencapai 5.791,7 ton. Sentra utama budidaya air payau tersebar di Kecamatan Gantarang, Ujungloe, Bonto Bahari, Kajang, Ujung Bulu, Bonto Tiro, serta daerah Herlang. Pembagian proporsi luas dan produksi mengindikasikan Gantarang dan Ujungloe sebagai daerah paling intensif dalam budidaya payau. Komoditas utama yang dikembangkan meliputi udang vanamean/windu, ikan bandeng, ikan mujair, dan rumput laut (Gracilaria) sesuai karakteristik salinitas dan ekosistem mangrove dapat dilihat sebagai berikut :

Untuk usaha budidaya laut komoditas yang dikembangkan di Kabupaten Bulukumba hanya Rumput Laut, sementara jenis komoditas lainnya seperti ikan kerapu maupun mutiara belum berkembang. Komoditas budidaya laut selain rumput laut sebenarnya sudah diusahakan dalam pengembangannya namun sampai saat ini belum ada success story terhadap budidaya tersebut, biasanya mengalami kegagalan terutama pada saat pemilihan lokasi yang kurang pas.

Namun untuk budidaya rumput laut Kabupaten Bulukumba merupakan daerah yang sangat berkontribusi positif terhadap produksi di Sulawesi Selatan dan memiliki kualitas karagenan yang diakui oleh perusahaan eksportir. Terdata bahwa potensi lahan budidaya rumput laut mencapai 9.000 ha, dengan potensi produksi sekitar 216.252,22 ton Adapun produksi rumput laut dapat dilihat pada tabel berikut:

Budidaya air tawar di Kabupaten Bulukumba terbagi menjadi dua jenis, yaitu budidaya kolam dengan produksi sebesar 425,65 ton dan budidaya mina padi sebesar 18,73 ton. Dinas Perikanan telah aktif mendorong kemitraan dengan masyarakat melalui dua fasilitas utama: Balai Benih Ikan (BBI) di Tanete, Kecamatan Bulukumpa, yang sejak 2003 menyediakan benih air tawar, serta Pasar Benih Ikan (PBI) di Rilauale, yang berfungsi sebagai pusat distribusi benih ke berbagai kecamatan seperti Bulukumpa, Kindang, Gantarang, dan Ujung Bulu. Komoditas utama budidaya air tawar meliputi lele, gurame, nila, ikan mas, dan patin, yang sesuai untuk dibudidayakan di kolam, sawah (minapadi), maupun sumber air lokal lainnya. Jika dikelola secara optimal, budidaya air tawar ini memiliki potensi produksi lokal yang sangat tinggi.

Budidaya ikan air tawar sebenarnya belum terlalu familiar di kalangan masyarakat Kabupaten Bulukumba, mengingat sebagian besar penduduknya lebih menyukai konsumsi ikan laut dibandingkan ikan air tawar. Pola konsumsi ini menjadi salah satu faktor yang menghambat pengembangan budidaya air tawar, karena para pembudidaya kerap mengalami kesulitan dalam memasarkan hasil panennya. Meskipun permintaan ikan air tawar di tingkat regional (Sulawesi) cukup tinggi, produksi di Bulukumba masih berskala kecil dan tersebar, sehingga sulit diserap pasar. Kondisi ini menyulitkan para pengepul untuk membeli hasil budidaya karena dari sisi ekonomi dianggap kurang menguntungkan. 

 

This site uses cookies. By continuing to browse the site you are agreeing to our use of cookies Find out more here