Getar Cinta, Bawa Mardiana Menjadi Perawat Teladan

Mulyadi_ganie , 10 Agustus 2019

 

Bulukumba,- Tidak sangka salah seorang perawat di Puskesmas Caile bernama Mardianah menjadi nominasi Tenaga Kesehatan Teladan kategori perawat tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Mardianah terpilih karena aktif memberikan “Getar Cinta” kepada penyandang disabilitas, khususnya kepada anak-anak tuna rungu.

Getar Cinta yang diusung oleh perempuan kelahiran tahun 1982 ini adalah singkatan dari Gerakan Tuna Rungu Cerdas Emosional dengan Senam Otak. Getar Cinta ini adalah penelitian Mardianah untuk mengetahui apakah ada pengaruh senam otak (Brain Gym) terhadap peningkatan kemampuan memori jangka pendek anak tuna rungu.

 

Setelah melakukan dan mempraktekkan senam otak di siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Bulukumba, khususnya kepada anak-anak tuna rungu, hasilnya ternyata menggembirakan di mana senam otak dapat meningkatkan kecerdasan emosional dan meningkatkan kemandirian anak tuna rungu.

“Awalnya saya terinspirasi dari anak saya yang tuna rungu. Semua ibu menginginkan anaknya normal seperti anak lainnya. Setelah saya mengetahui dan memahami fungsi senam otak, saya pun mengajarkan senam otak kepada anak saya,” ujar Mardianah saat memaparkan penelitiannya kepada Tim Penilai Lomba Tenaga Kesehatan Tingkat Provinsi di Puskesmas Caile, Jumat 9 Agustus 2019.

 

Dikatakannya tahap demi tahap dan sesering mungkin selama kurang lebih lima bulan ia melakukan ujicoba tersebut dan alhamdulillah membuahkan hasil. “Awalnya anak saya mengeluarkan kata-kata yang tidak jelas dan sekarang dapat mengeluarkan kata-kata yang sudah jelas dan kepercayaan dirinya pun sudah mulai terlihat,” ungkapnya.

Setelah berhasil dengan anaknya, ia pun menularkan kepada anak-anak tuna rungu di SLB Bulukumba. Menurutnya senam otak adalah belajar dengan keseluruhan otak melalui gerakan dan aktifitas yang memungkinkan orang bisa menguasai bagian otak yang semula tidak dikuasainya. Dengan demikian salah satu terapi bagi anak tuna rungu adalah dengan memberikan senam otak oleh karena anak tuna rungu memiliki gangguan utama pada otak.

“Anak tuna rungu mempunyai kemampuan memori jangka pendek yang rendah disebabkan karena adanya abnormalitas pada bagian otak,” bebernya.

 

“Senam otak berisi gerakan yang sederhana yang dapat merangsang integrasi kerja bagian otak kanan dan kiri untuk dapat menghasilkan koordinasi fungsi otak yang harmonis sehingga dapat meningkatkan kemampuan memori,” tambahnya.

Wakil Bupati Tomy Satria Yulianto memuji sosok perawat Mardianah. Menurutnya apa yang telah dilakukan oleh Mardianah adalah hal yang luar biasa dan terpuji oleh karena telah memberikan perhatian terkait kesehatan dan perkembangan anak-anak penyandang disabilitas.

“Ini menunjukkan bahwa tenaga kesehatan kita telah memperlakukan penyandang disabilitas setara dengan warga lainnya. Bahkan memberikan perhatian khusus sehingga anak-anak tuna rungu menunjukkan perkembangan kepribadian yang positif,” kata Tomy saat menyampaikan sambutan di aula Puskesmas Caile.

Ketua Tim Penilai Provinsi Moh Husni Thamrin, mengapresiasi gerakan atau Getar Cinta yang telah dilakukan oleh Mardianah. Inovasi yang dilakukan Mardianah merupakan yang pertama di Indonesia.

“Setahuku ini yang pertama di Indonesia. Sudah lama saya berkeliling melakukan penilaian kepada nominator tenaga kesehatan teladan, namun Getar Cinta yang diusung oleh Mardianah ini adalah hal yang pertama kalinya menyentuh penyandang disabilitas, khususnya anak-anak tuna rungu,” ungkapnya.

Pada seremoni penerimaan tim penilai, para anak-anak tuna rungu binaan Mardianah melakukan tari penyambutan kepada para tim penilai yang didampingi oleh Wakil Bupati dan Ketua Tim Penggerak PKK Siti Isniyah. Mardianah bersama 25 tenaga kesehatan lainnya dari beberapa kabupaten kota akan bersaing memperebutkan posisi lima besar yang akan mewakili Sulawesi Selatan ke tingkat nasional.(A3/Humas)

Artikel Lainnya :

Cegah Stunting, Dinkes Gelar Workshop Konvergensi

Bulukumba,-  Saat ini isu stunting menjadi prioritas pemerintah dalam  pembangunan kesehatan. Indonesia adalah negara ke-5 dengan jumlah balita tertinggi mengalami stunting. Kabupaten Bulukumba sendiri per Oktober 2019 memiliki anak balita...

Bulukumba Kembali Terima Penghargaan Kabupaten Peduli HAM

Bandung, - Kabupaten Bulukumba kembali meraih penghargaan sebagai Kabupaten Peduli Hak Asasi Manusia (HAM) pada puncak Peringatan Hari HAM Sedunia ke 71 yang dilaksanakan di Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Jawa Barat. Selasa, 10...

Setelah Mediasi, Hulu Sappayya Na’na Jadi Induk Air PDAM

Bulukumba- Penolakan warga Na’na Kelurahan Borong Rappoa Kecamatan Kindang terhadap proyek pengembangan Sistem Pengelolaan Air Minum PDAM telah mendapatkan titik temu dan solusi penyelesaian setelah dilakukan mediasi langsung antar pihak....

Angka Kemiskinan Kabupaten Bulukumba Menurun

Makassar- Upaya Pemerintah Kabupaten Bulukumba dalam pengentasan kemiskinan menunjukkan angka yang positif. Sesuai data Persentase Penduduk Miskin Kabupaten Kota Tahun 2019 dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan, angka kemiskinan...